Bulu tangkis adalah salah satu olahraga tercepat di dunia. Namun, jika Anda menonton pertandingan bulu tangkis di era 1990-an dan membandingkannya dengan pertandingan hari ini, perbedaannya tidak hanya terletak pada kecepatan raket atau fleksibilitas para pemain, melainkan pada sistem perhitungan skor.
Evolusi skor dalam bulu tangkis telah mengubah ritme permainan secara dramatis. Dari sistem klasik yang mengandalkan pindah bola hingga sistem rally point yang penuh tensi tinggi, perubahan aturan ini dirancang untuk membuat pertandingan semakin dinarik, dinamis, dan ramah bagi tayangan televisi.
Era Awal dan Sistem Klasik (15 Angka dengan Pindah Bola)
Pada masa-masa awal bulu tangkis modern dipopulerkan oleh International Badminton Federation (IBF, kini BWF), permainan menggunakan sistem 15 angka klasik. Sistem ini menerapkan aturan service over atau yang lebih dikenal masyarakat Indonesia sebagai sistem pindah bola.
Dalam sistem ini, seorang pemain atau pasangan hanya bisa mencetak poin ketika sedang memegang hak servis. Jika pemain yang menerima servis berhasil mematikan bola, mereka tidak langsung mendapatkan angka. Mereka hanya ” merebut servis” atau memindahkan hak servis ke pihak mereka.
Aturan khusus juga berlaku untuk kategori tunggal putri, di mana game berakhir hanya pada angka 11 poin, bukan 15.
Sistem 15 angka ini memiliki keunikan tersendiri. Pertandingan bisa berlangsung sangat lama dan menguras fisik secara ekstrem, karena rally-rally panjang sering kali tidak menghasilkan perubahan angka sama sekali. Laga epik antar bintang dunia bisa memakan waktu hingga lebih dari dua jam hanya untuk menyelesaikan dua atau tiga game.
Eksperimen Sistem 5×7 Poin (2002)
Seiring berjalannya waktu, durasi pertandingan yang sangat panjang dan sulit diprediksi mulai menjadi masalah bagi hak siar televisi. Untuk mengatasi hal ini, IBF memosisikan era awal 2000-an sebagai masa uji coba.
Pada tahun 2002, IBF memperkenalkan sistem eksperimental 5 game x 7 poin. Pemain yang pertama kali memenangkan 3 game (best of 5) dengan raihan 7 poin di setiap game keluar sebagai pemenang. Aturan pindah bola masih berlaku dalam format ini.
Tujuan dari format 7 poin ini adalah memperpendek durasi dan meningkatkan intensitas sejak menit pertama. Namun, eksperimen ini tidak bertahan lama. Banyak pemain dan pelatih mengeluhkan bahwa game terasa terlalu singkat, tidak memberi ruang cukup untuk bangkit dari tekanan (comeback), serta mengikis unsur taktis dan stamina yang menjadi ciri khas bulu tangkis.
Revolusi Sistem Rally Point 21 Poin (2006–Sekarang)
Pada Mei 2006, IBF secara resmi mengadopsi perubahan terbesar dalam sejarah bulu tangkis: Sistem Rally Point 3×21 Poin. Sistem inilah yang kita kenal dan gunakan hingga saat ini.
Sistem rally point menghapus konsep pindah bola sepenuhnya. Setiap kali reli berakhir, siapa pun yang mematikan shuttlecock akan mendapatkan poin, tidak peduli siapa yang melakukan servis sebelumnya.
Pemenang adalah pemain atau pasangan yang pertama kali mencapai 21 poin dalam format best of three (memenangkan 2 dari 3 game).
Aturan penentuan (setting) juga dibuat lebih menarik:
- Jika kedudukan imbang di angka 20-20, permainan dilanjutkan hingga salah satu pihak unggul 2 poin (misalnya 22-20, 23-21).
- Jika terus berimbang, poin maksimal dibatasi hingga angka 30. Siapa yang menyentuh angka 30 terlebih dahulu otomatis memenangkan game (misalnya 30-29).
Format 21 rally point terbukti sukses besar secara global. Durasi pertandingan menjadi lebih terprediksi (rata-rata 40 hingga 70 menit), tempo permainan menjadi jauh lebih cepat, dan tensi pertandingan merata dari awal hingga akhir game.
Uji Coba Sistem 5×11 Poin dan Masa Depan Perhitungan Skor
Meski sistem 21 poin sangat populer, BWF terus mengeksplorasi inovasi demi menyesuaikan kebutuhan audiens digital modern. Beberapa tahun belakangan, BWF sempat menguji coba sistem 5×11 poin (rally point) pada beberapa turnamen tingkat junior dan internasional tertentu.
Tujuan dari sistem 11 poin ini adalah:
- Mempercepat durasi laga agar lebih ideal untuk tayangan digital dan media sosial.
- Meningkatkan intensitas laga sejak poin pertama.
- Mengurangi beban fisik akumulatif pada tubuh atlet profesional sepanjang musim.
Namun, dalam beberapa kali pemungutan suara pada Annual General Meeting (AGM) BWF, usulan untuk mengganti sistem 21 poin ke 11 poin secara permanen masih belum memenuhi kuota mayoritas suara dari federasi anggota. Sebagian besar anggota menganggap sistem 21 poin saat ini sudah memberikan keseimbangan terbaik antara drama, keahlian teknis, dan ketahanan fisik.
Dampak Perubahan Perhitungan Skor Terhadap Gaya Bermain Atlet
Perubahan dari sistem pindah bola ke rally point secara tidak langsung mengubah peta kekuatan dan gaya bermain para atlet profesional:
- Pentingnya Unsur Akurasi dan Servis: Di era rally point, kesalahan kecil saat melakukan servis atau mengembalikan servis langsung berbuah poin untuk lawan.
- Kecepatan dan Daya Ledak: Pemain modern dituntut memiliki daya ledak (explosiveness) dan serangan agresif sejak awal game, berbeda dengan era klasik yang lebih menekankan pertahanan dan adu stamina jangka panjang.
- Ketahanan Mental: Kehilangan beberapa poin berturut-turut di sistem 21 poin bisa sangat fatal. Atlet dituntut memiliki fokus dan regulasi emosi yang jauh lebih kuat.
Evolusi perhitungan skor ini membuktikan bahwa bulu tangkis adalah olahraga yang adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa menghilangkan esensi keindahan dan dinamika permainannya.

